Mamak jo kamanakan

Dari Wikipedia baso Minang, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

MAMAK DAN KEMENAKAN

Saudara laki-laki ibu, baik adik maupun kakaknya. Secara khusus, Suatu lembaga atau badan yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan keluarga matrilineal di Minangkabau. Bisa juga diartikan sebagai lembaga kepemimpinan yang mengurus hal-hal yang berhubungan dengan adat Minangkabau.

Kamanakan barajo ka mamak

Mamak barajo ka pangulu

Pangulu barajo ka mufakat

Mufakat barajo ka nan bana

Bana badiri sandirinyo

Bana manuruik alua jo patuik

Manuruik patuik jo mungkin.

Ungkapan tersebut ditujukan untuk kemenakan. Kemenakan dan mamak mempunyai hubungan sebagai pemimpin dan orang yang dipimpin. Kemenakan sendiri mempunyai arti sebagai berikut secara umum anak saudara perempuan, baik laki-laki maupun perempuan. secara khusus, semua orang yang dipimpin di minangkabau.

Hubungan mamak dan kemenakan ialah hubungan bertali darah. Karena itu, mamak dan kemenakan adalah orang yang satu suku. Mamak akan bertindak sebagai orang yang memimpin dan orang yang dipimpin.

Hubungan kedua adalah hubungan sako jo pusako. Sako adalah gelar kehormatan di Minangkabau dan pusako adalah harta dalam bentuk benda dan nonbenda.

Seperti ungkapan berikut ini :

Biriak-biriak turun ka samak

Tibo di saamak makan padi

Dari niniak turun ka mamak

Dari mamak turun ka kami

Maksud ungkapan di atas adalah sako dan pusako yang didapat dari ninik diturunkan ke mamak dan diturunkan lagi untuk kemenakan. Sako dan pusako merupakan warisan turun temurun menurut garis keturunan ibu atau menurut kekerabatan bertali darah.

Oleh karena itu, mamak dan kemenakan sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Mamak sebagai orang yang dituakan dan menjadi pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, harus menurut alur dan patut, sesuai hokum dan ketentuan yang berlaku di Minangkabau.

Kemenakan juga memiliki tanggung jawab terhadap mamaknya. Andaikan mamaknya berhutang, kemenakan yang akan membayarnya. Sehingga beban mamak agak berkurang dan akan terpelihara hubungan yang harmonis antara mamak dan kemenakan.

Mamak berperan dalam membimbing kemenakan, memelihara dan mengembangkan harta pusaka serta mewakili keluarga dalam urusan keluar.

Membimbing kemenakan adalah kewajiban mamak. Seperti ungkapan berikut ini:

Kaluak paku kacang balimbiang

Daun bakuang lenggang-lenggangkan

Anak dipangku kamanakan dibimbiang

Urang kampuang dipatenggangkan

Mamak berkewajiban dalam membimbing kemenakan dalam bidang adat, bidang agama, dan bidang perilaku sehari-hari. Kalau kemenakan melakukan kesalahan, mamak akan ikut malu. Masyarakat akan berkata begini, kamanakan sia tu, atau sia mamaknyo.

Peranan mamak yang lain adalah memelihara dan mengembangkan harta pusako. Harta pusaka itu dipelihara supaya jangan habis, tidak boleh dijual, atau digadaikan. Mamak hanya memelihara saja, sedangkan pemiliknya adalah ibu ( bundo kanduang ).

Peranan mamak yang ketiga adalah mewakili keluarga dalam urusan keluar. Urusan itu bisa terjadi dalam hal-hal yang baik atau kurang baik. Mamak akan bertindak atas nama keluarga dan mewakili keluarga dan juga akan bertindak atas nama keluarga untuk penyelesaian sebuah sebuah masalah.

Kemenakan laki-laki dan kemenakan perempuan sama-sama dibutuhkan dalam keluarga Minangkabau. Peranan keduanya di dalam keluarga berbeda-beda.

Kemenakan laki-laki memiliki peran antara lain kader pemimpin ( mamak ) dalam keluarga dan Membantu mamak dalam urusan-urusan keluarga. Kemenakan perempuan memiliki peran antara lain, calon ibu (bundo kanduang ), calon penguasa harta pusaka, pelanjut ganerasi, Penghuni rumah gadang.

Ruang lingkup kepemimpinan Mamak sangat bergantung kepada tanggung jawabnya. Jika ia sebagai mamak pangulu, kaumlah yang dipimpinnya. Jika ia sebagai mamak tungganai, tungganai yang terdiri atas beberapa keluarga yang dipimpinnya. Jika sebagai mamak rumah, satu rumahlahlah yang dipimpinnya.

Sebagai seorang pemimpin, mamak diibaratkan sebagai kayu besar di tangah koto. Ia menjadi pelindung bagi kemenakannya. Seorang mamak adalah penegak hukum yang adil. Mamak tidak akan memihak siapapun. Dia hanya berprinsip ka nan bana. Seperti ungkapan berikut ini :

Mahukum adia, bakato bana,

Manimbang samo barek,

Maukua samo panjang,

Nan babasih nan bapaek,

Nan baukua nan di kabuang,

Tibo di mato indak dipicingkan,

Tibo di paruik indak di kampihkan,

Tibo di dado indak dibusuangkan.

Mamak menjadi tempat meminta nasehat bagi kemenakan. Jika kemenakan akan berjalan, kepada mamaklah dia bertanya. Jika kemenakan sudah kembali, mamaklah yang akan menyampaikan kabar. Seperti ungkapan berikut ini :

Kapai tampek batanyo

Ka pulang tampek babarito

Kusuik nan kamanyalasaikan,

Karuah nan ka manjaniahkan.

Mamak menjadi penyelesai berbagai masalah. Penjernih dalam kekeruhan dan dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan. Seperti ungkapan berikut ini :

Indak ado kusuik nan ndak salasai,

Indak ado karuah nan indak janiah,

Kusik bulu paruah manyalasaikan,

Kusuik banang dicari ujuang jo pangko,

Kusuik rambuik dicari sikek jo minyak,

Kusuik sarang tampuo api manyalasaikan.

Kemenakan adalah orang yang dipimpin. Seperti ungkapan berikut ini :

Kamanakan barajo ka mamak

Kamanakan saparintah mamak

Namun jika perintahnya mengarah kepada keburukan, kemenakan boleh menyanggahnya. Seperti ungkapan berikut ini :

Rajo adia rajo disambah

Rajo lalim rajo disanggah

Kemenakan laki-laki sering disebut urang mudo sehingga memiliki kearifan tersendiri. Ia tahu akan tugasnya. Karena itu, ia akan pergi sebelum disuruh dan akan dating sebelum dipanggil.

Kemenakan perempuan memiliki kepastian dalam hidup, berbuat, dan bertindak.

Namun tidak mengurangi dan merendahkan martabatnya. Seperti ungkapan berikut ini :

Bajalan si ganjua lalai

Pado pai suruik nan labiah

Alu tataruang patah tigo

Samuik tapijak indak mati.

Ungkapan tersebut menyatakan kemenakan perempuan jika berjalan tetap lemah gemulai namun pasti sehingga ia akan menembus segala haling rintang dengan penuh kehati-hatian.

Rafiq Gusly Abdul Razak (1710743001), Padang 2018.

Dt. Sanggoeno Diradjo., Ibrahim (2009). Tambo alam Minangkabau : tatanan adat warisan nenek moyang orang Minang : adat dan budaya Minangkabau. Bukittinggi: Kristal Media. ISBN 9789791832700.