Galogandang, Tigo Koto, Rambatan, Tanah Datar

Dari Wikipedia baso Minang, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Galogandang
Jorong
Galogandang.jpg Pamandangan di salah satu suduik wilayah jorong Galogandang
Nagara  Indonesia
Provinsi Sumatera Barat
Kabupaten Tanah Data
Kecamatan Rambatan
Nagari Tigo Koto
Laweh sekitar 350 hektare

Galogandang adolah salah satu jorong nan talatak di nagari Tigo Koto, kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Latak jo kondisi geografis[suntiang | suntiang sumber]

Jorong Galogandang secara administratif merupakan bagian Nagari III Koto, Kecamatan Rambatan, kabupaten Tanah Datar. Dahulunya, sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1979 Tentang Sistem Pemerintahan Desa di Propinsi Sumatera Barat, Desa Galogandang adalah desa. Ketika sistem pemerintahan di Sumatera Barat kembali ke Nagari maka Galogandang kembali menjadi sebuah jorong dari Nagari III Koto. Waktu perubahan sistem pemerintahan nagari menjadi desa, daerah Galogandang menjadi desa sampai saat dilakukan penelitian ini dilakukan. Desa Galogandang terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Guguak Raya, Dusun Tanah Liek, Dusun Masjid Tuo, dan Dusun Parak Laweh.

Jorong Galogandang terletak pada begian Barat Daya dari Kecamatan Rambatan, berbatasan langsung dengan kecamatan Pariangan dan Kecamatan Batipuh. Jelasnya daerah Galogandang sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pariangan, sebelah utara berabatasan dengan Nagari Padang Magek, sebelah selatan dengan Padang Luar dan sebelah timur dengan Jorong Turawan.

Jarak Jorong Galogandang dengan pusat kecamatan sekitar 5 kilometer dengan jarak tempuh waktu sekitar 15 menit. Dengan Ibu Kota Kabupaten di Batusangkar berjarak kurang lebih 10 Kilometer nan bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 Menit. Sedangkan dengan Ibu Kota Propinsi Sumatra Barat (Kota Padang) jaraknya kira-kira 100 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam. Hubungan dengan pusat pemerintahan dapat dikatakan lancar dengan sarana jalan nan memadai (jalan aspal).

Jorong Galogandang terdapat 3 ruas jalan nan menghubungkannya dengan daerah sekitar, yaitu dari Padang Magek, Turawan dan Batubasa dengan kondisi jalan nan sudah memadai (jalan aspal). Angkutan atau kendaraan nan ke Galogandang umumnya melalui Nagari Padang Magek/ Rambatan dan merupakan jalan utama. Lancarnya hubungan ke Jorong Galogandang terutama dirasakan sejak tahun 1976. Daerah Galogandang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan lembah nan menyebabkan jalan-jalan mesti melalui lembah dan perbukitan seperti jalan nan menghubungkan desa Galogandang dengan nagari Padang Magek (Jalan utama) nan memiliki belokan dan tikungan tajam, melewati sungai (Batang) Bangkaweh dengan penurunan dan pendakian nan tinggi pula. Artinya kendaraan nan melewati jalan itu harus ekstra hati-hati.

Jorong Galogandang terletak pada ketinggian 540 meter diatas permukaan laut denga luas wilayah sekitar 350 hektare. Dilihat dari pemanfaatannya, Jorong Galogandang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan ladang-ladang persawahan sedangkan daerah pemukiman hanya sekitar 5 hektare. Daerah pemukiman dan pekaranga sekitar 5 hektare, empang dan kolam ikan sekitar 20 hektare, lahan persawahan 150 hektare dan selebihnya sekitar 185 hektare merupakan daerah perbukitan, lembah, padang ilalang dan areal perladangan.

Mata pencaharian penduduk Galogandang antara lain menjadi petani dan pedagang. Mereka mnjadi petani sawah. Sementara sebagai pedagang mereka merantau ke berbagai pelosok Tanah Air. Namun nan paling banyak merantau ke ibu kota Jakarta. Koto Galogandang dikenal juga sebagai daerah pembuat kerajinan tanah liat nan meproduksi peralatan memasak seperti periuk dan kuali dari tanah. Dahulu sebelum ditemukan tekhnologi logam, periuk Galogandang menjadi andalan masyarakat Luak Tanah Datar untuk peralatan memasak.

Sijarah[suntiang | suntiang sumber]

Masyarakat Jorong galogandang menganggap bahwa nenek moyang mereka barasa dari daerah pusat perkembangan adat Minangkabau yaitu Pariangan. Bahkan mereka merasa bagian dari daerah Pariangan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa Jorong Galogandang dan Pariangan menganut laras nan sama yaitu Laras nan Panjang. Seperti diketahui, masyarakat Minangkabau mengenal tiga kelarasan nan menentukan sistem adat dan pemerintahannya yaitu Koto Piliang, Bodi Caniago dan Laras nan Panjang. Laras Koto Piliang dan Bodi Caniago lebih dikenal dari Laras nan Panjang dan wilayahnya pun lebih luas. Daerah Laras Nan Panjang adalah seiliran batang Bangkaweh mulai dari daerah Guguak dikaki gunuang marapi diutara sampai dengan bukit Tambasudi selatan nan meliputi daerah Guguak, Pariangan, Sialahan, Batu Basa, Galogandang, Turawan dan Balimbiang. Kelararasan Nan Panjang adalah kelarasan tertua, karenanya mereka menjadi daerah istimewa di mana mereka bisa memakai adat atau tata cara Koto Piliang atau Bodi Chaniago.

Menurut cerita, Jorong Galogandang dahulunya ditemukan oleh sekelompok orang dari Pariangan sewaktu mereka menyebarkan pengaruh dan wilayahnya. Tempat pertama nan didatangi di daerah Galogandang adalah suatu tempat disebelah barat daerah Galogandang nan sekarang merupakan daerah persawahan, berbatasan dengan nagari Batu Basa. Di sana mereka hidup dan berkembang sampai jumlahnya menjadi besar sehingga tempat itu dirasakannya tidak cukup lagi sebagai tempat kediaman. Beberapa orang dari anggota kelompok itu pergi mencari dan membuka tempat pemukiman baru, ada nan berdekatan dengan batang Bangkaweh dan ada juga nan jauh. Mereka berpencar-pencar dan membentuk kelompok sendiri sampai jumlahnya menjadi tiga kelompok. Pengelompokan ini lama kelamaan membentuk nagari tigo (tiga) koto.

Daerah tigo koto itu dalam perkembangannya kemudian merupakan sebuah nagari nan terdiri dari tiga koto (perkampungan) yakni Padang Luar, Turawan dan Galogandang. Pada masa sistem pemerintahan nagari ketiga daerah itu menjadi jorong dan pada waktu sistem pemerintahan desa namanya menjadi desa. Ketiga daerah itu dilihat dari letaknya tidak bisa disebut berdekatan karena antara daerah-daerah itu dibatasi oleh daerah kosong nan tidak ada pemukiman.

Menurut Damsar (1992 : 33) Nagari Tigo Koto pada hakikatnya lebih bersifat persekutuan nagari-nagari ketimbang satu kesatuan nagari nan homogen. Artinya dari sistem kemasyarakatan ketiga Nagari (Galogandang, Padang Luar dan Turawan) itu memiliki perbedaan nan sebetulnya berdiri sendiri. Ketiganya mempunyai kekuasaan politik sendiri nan terwujud dalam bentuk balai adat dan tidak ada campur tangan dari persekutuan nagari atau nagari lain kecuali diminta oleh nagari nan bersangkutan. Penamaan dari ketiga daerah tersebut rupanya memiliki cerita tersendiri. Disaat terbentuknya Tigo Koto, timbul permasalahan tentang apa nama dari setiap kelompok itu nan dibawa kekerapatan kepala suku/penghulu pucuk. Untuk itu diadakan permusyawaratan bersama anak nagari. Pada waktu permusywaratan berlangsung, setiap daerah mengirim perwakilannya. Acara itu dimeriahkan dengan atraksi kesenian.

Ketika kegembiraan sedang berlangsung tiba-tiba mereka nan hadir mendadak ketakutan dan lari meninggalkan arena keramain. Peristiwa itu terjadi karena ada seekor kerbau nan lepas dari tangan pembantainya, dia menyeruduk kesana kemari sehingga membuat cemas orang nan berada disekitarnya. Kerbau itu diusir beramai-ramai dengan berbagai macam cara sehingga lama kelamaan kerbau itu kepayahan. Pada suatu tempat, pimpinan rombongan menyerukan “hantakkan padang kalua”, baru kerbau itu bisa dibunuh. Kemudian kerbau itu dikuliti, diambil dagingnya dan dimasak ditempat permusyawaratan. Mengingat banyaknya orang nan hadir, pimpinan menyuruh kumpulkan seluruh daging kerbau nan ada dan menyerukan “atuah tulang rawan” kerbau itu.

Dilain pihak musyawarah dalam penentuan nama itu belum juga ada kesepakatan dan atraksi kesenian terus dilanjutkan. Terjadi peristiwa kerbau mengamuk memberikan inspirasi pada para penghulu pucuk ditiap-tiap kelompok untuk mengabdikan peristiwa tersebut. Tempat diadakan acara berdendang anak nagari nan diiringi dengan bunyi gendang nan “digalo” (ditabuh) diberi nama Galogandang. Sementara itu tempat kejar mengejar kerbau dengan mengehentakkan “padang kalua” dinamakan dengan Padang Lua (Padang Luar) nan berati pedang nan dikeluarkan dari sarungnya. Terakhir tempat kerbau dikuliti dan diambil dagingnya serta “diatuah tulang rawannya” (mengumpulkan tulang rawan dengan cara mengikatnya pada seutas tali atau lidi) daerah itu dinamakan dengan Turawan.

Daerah Galogandang pertama kali ditempati oleh sebuah rombongan nan dipimpin oleh Datuak Kali Bandaro bersama tiga orang Datuak lainnya yaitu Datuak Talanai sati, Datuak Tanmaliak dan datuak Bijo Kayo. Mereka bekerja sama membangun daerah ini nan kemudian dianggap sebagai “inyiak” (orang tua nagari) nan sangat dihormati oleh masyarakat sampai sekarang. Masyarakat Jorong Galogandang sekarang merupakan keturunan langsung dari keempat orang datuak tersebut. Gelar keempat datuak itu masih tetap dipakai secara turun temurun sampai sekarang.

Carito [suntiang | suntiang sumber]

Coba Anda bayangkan sebuah bukit nan sebelah atasnya dipapas. Datar. Begitulah topografi kampungku. Galogandang namanya. Karena datarnya, kalau anak-anak naik sepeda keliling kampung, mereka tidak akan menemukan jalan menanjak nan mengharuskan mereka turun dari sepeda. Semua jalan bisa digowes. Karena sebuah bukit, maka dari mana saja Anda datang kalau menuju kampungku harus naik. Ada tiga akses ke kampungku. Dari Batubasa, Turawan dan Padang Magek. Dari Batubasa Anda bisa masuk dari arah Nagari Simabur nan berada di ketinggian, di pinggir Gunung Marapi. Dari Simabur menuju kampungku harus lewat Desa Tanjung Limau kemudian ke desa Batubasa semua menurun. Uniknya pas mau masuk ke kampungku harus naik. Jalan menanjak nan membuat kita harus mendaki.  Apalagi datang dari Desa Turawan nan terletak di bawah. Demikian juga bila Anda datang dari desa Padang Magek. Demikian juga kalau kita menggunakan jalan setapat dari desa Padang Luar. Juga mengharuskan Anda menurun. Satu-satunya Anda akan jalan menurun ke desaku kalau Anda datang dari Pitalah nan berada dibalik bukit barisan. Cuma kalau Anda dari Pitalah, harus mendaki bukit dulu, baru dari bukit tadi Anda akan turun ke Galogandang.  Tidak tahulah apa alasan sebenarnya orang-orang saisuak memberi nama desaku Galogandang. Sebuah versi nan beredar dari mulut ke mulut nama Galogandang diambil dari fungsi dan tugas penduduk nan berdomisili di sana, sewaktu terjadi peperangan dahulu kala. Seperti dalam tentara sekarang, dalam peperangan, pasukan mempunyai fungsi-fungsi sendiri. Fungsi orang Galogandang adalah tukang pukul gendang, sebagai pemberitahuan peperangan. Galo barasa dari kata galu atau pukul. Sementara gandang yaitu semacam rebana. Pasukan lainnya nan intelijen atau nan memberi tahu siapa musuh adalah orang dari desa Turawan. Turawan sendiri asal katanya disebutkan bagai kata nan dikeluarkan oleh tentara yaitu: itu lawan. Pasukan infantry atau nan basosoah dalam perang adalah warga desa Padang Luar. Orang nan mengeluarkan pedang.  Keberanaran cerita ini masih bisa didebatkan. Namun bukti pendukung bahwa wilayah desaku sebagai daerah bekas perang ada. Galogandang terletak di pinggir sungai nan bernama Batang Bengkawas, termasuk dalam daerah istimewa di Minangkabau, daerah istimewa nan masuk dalam wilayah Kelarasan Nan Panjang. Nah di desa-desa nan masuk dalam kelarasan Nan Panjang sepanjang Batang Bengkawas, mulai dari Nagari Tua Pariangan sampai ke Ombilin, ada kawasan disebut kubu dan parit. Kubu dan parit adalah istilah dalam peperangan. Kubu berarti tempat pertahanan, sementara parit adalah wilayah nan digali di seputar parit, untuk memudahkan mematahkan lawan dalam peperangan. Nah, sampai sekarang kawasan kubu dan kawasan parit masih bisa dilihat di Galogandang.

Nama-nama, apakah nama orang, nama benda, atau nama daerah tentu ada nan melatar belakanginya. Sebutlah nama parit dan kubu di kampungku, nan berkaitan dengan peperangan. Nama wilayah di kampungku juga ada latar belakangnya. Seperti wilayah pusat pemerintahan di kampung di namakan Balai Rabaa. Itu karena di sana dulu memang ada pasar. Raminya tiap pekan pada hari Rabu, atau kami menyebutnya Rabaa. Pasar itu kini sudah gak berbekas lagi. Tapi tanah bekas pasar itu masih ada yaitu di samping lokasi SD pertama di Galogandang. Tanah tersebut sampai sekarang masih ada dan kosong saja. Konon riwayat tanah bermasalah. Dan kabar tanah itu sudah dihibahkan ke nagari, namun pemberian itu ditarik lagi oleh generasi pemilik tanah nan masih muda. Tanah memang suatu nan mahal dan berharga di Galogandang. Soal ini nanti akan saya ceritakan tersendiri. Kembali ke Balai Rabaa. Kini di sana berdiri kantor Wali Jorong, Balai Adat nan didepatnya ada lapangan bulu tangkis, tempat aku dulu menghabiskan masa kecil nan menyenangkan. Menyenangkan karena aku sering menang dalam permainan. Walau tubuhku terbilang mungil, namun dalam main bulutangkis bisa melumatkan musuh nan badannya besar. Di Balai Rabaa juga berdiri sejumlah warung. Warung kelontong dan warung kopi, tempat bapak-bapak menghabiskan waktu “maota”. Pagi, sore dan sampai malam digunakan untuk minum kopi dan the sembari berkelakar. Membunuh waktu, mereka juga main kartu domino, main kartu remi dan kartu koa. Sejak ada televisi, warung juga menjadi tempat menonton bersama. Karena kalau menonton bersama lebih asik. Bisa saling komentar sebuah kejadian. Yang menjadi topik pembicaraan beragam. Bisa masalah berburu babi nan hampir tiap pekan selalu diakan dan diikuti sebagian besar lelaki dewasa di kampungku. Atau juga pacu jawi. Namun tak kalah hebohnya adalah mengomentari berita-berita atau peristiwa nan terjadi, baik peristiwa atau berita seputar kampong, maupun nan disiarkan televisi. Balai Rabaa terletak sangat strategis. Di simpang tiga. Dari timur dari Padangmagek. Ke kanan menuju Batubasa dan kekiri menuju Turawan. Tiga jalan itu kini kondisinya elok. Kalau mau menuju ibu kota kabupaten Tanah Datar di Batu Sangkar, jalan nan ditempuh adalah melalui Padang Magek terus ke Rambatan lalu ke Limo Kaum sampai deh di Batusangkar. Kalau mau ke Ombilin dan Solok di Danau Singkarak jalan nan ditempuh melalui Turawan kemudian Balimbing dan terus ke Ombilin. Sementara kalau mau ke Kota Padang Panjang, Bukit Tinggi dan Kota Padang jalan nan ditempuh adalah melalui Desa Batubasa kemudian Tanjung Limau lalu Simabur belok kiri ke Pariangan. Jadi kalau Anda ingin mencari apa saja tentang Galogandang ya di Balai Rabaa tempatnya. Karena dari Balai Rabaalah Anda akan menuju ke dalam kampong. Galogandang sendiri terbagi beberapa wilayah. Namun dikenal dengan dua bagian. Pertama daerah ilia (hilir) dan kedua daerah mudiak (mudik). Perbatasannya di wilayah Mesjid Akbar Galogandang. Dari Mesjid kea rah Balai Rabaa disebut daerah mudiak, sementara dari mesjid ke Daerah Kampuang Sajuak dinamakan ilia. Kampuang Sajuak? Ya namanya kampuang sajuak arti kampung nan sejuk. Kampuang Sajuak berada di pinggiran perbukitan. Atau Bukit Barisan, mulai dari Bukit Batu Besi (Bukit Tubasi), kemudian Bukit Sipunggur, lalu Bukit Tanah Sirah sampai dengan perbukitan nan berbatasan dengan Desa Batubasa. Di Kampuang Sajuak sendiri terdapat bukit-bukit kecil nan mengapit daerah tersebut. Cuma paradoksalnya, di wilayah Kampuang Sajuak, air sangat susah. Beda dengan daerah kamudiak. Soalnya mudiak berada di pinggir sungai. Ada dua sungai di daerah mudiak, yaitu Batang Bangkaweh dan Batang Bandarasah. Kedua sungai tadilah nan menjadi andalah warga bagian mudiak atau Balai Rabaa untuk kegiatan sehari-hari. Baik untuk mandi, mencuci dan untuk buang air. Sementara bagi warga Kampuang Sajuak banyak beraktifitas sehari-sehari di seputar Mesjid Akbar Galogandang. Atau nan dengan irigasi akan memanfatkan Bandar irigasi nan dibuat oleh Belanda dahulu. Di pertemuan dua sungai di Galogandang, Belanda mendirikan waduk. Kami menamakan Lubuk Tangsi. Karena di sana ada tangsi atau bangunan nan didirikan oleh Belanda kemudian diteruskan oleh Jepang untuk mengelola irigasi tadi. Air irigasi mengalir ke dua arah, kekiri ke Padang Magek dan ke kanan mengelilingi pinggir Galogandang nan berbatasan dengan Turawan. Air untuk Padang Magek dibutuhkan sekali oleh orang Belanda nan mempunyai perkebunan di sana. Sementara saluran air nan satunya lagi digunakan sebagai sarana irigasi persawahan di Galogandang dan Turawan. Selain vital bagi Belanda dan kini Pemda Tanah Datar, Lubuak Tansi juga sangat besar sekali manfaatnya bagi anak-anak Galogandang. Karena di sanalah mereka mendapatkan tempat untuk belajar sekaligus menyalurkan bakat berenang. Boleh dikatakan tidak ada anak laki-laki Galogandang nan tidak bisa berenang. Bahkan bisa dikatakan lihai. Karena ada kompetisi serta adu keahlian di sana. Bisa dalam bentuk siapa cepat berenang di waduk berukuran 10x10 meter tersebut. Atau merebut “pulau-pulau”, snama nan kami berikan untuk tembok pemecak nan dibangu di dalam waduk tersebut. Keahlian dan nyali memang dibutuhkan di sana. Karena ada pula lorong bawah tanah tempat lalu air nan bisa direnangi bagi nan berani. Yang tidak bisa berenang atau penakut biasa akan mandi di saluran air nan dangkal, dan ini adalah kelompok nan selalu mendapat ejekan.