Suku Nias

Dari Wikipedia baso Minang, ensiklopedia bebas
Lompek ka: navigasi, cari
Suku Nias
Ono Niha
COLLECTIE TROPENMUSEUM Krijger van Nias TMnr 10001780.jpg
Pajuang Nias saisuak
Jumlah populasi

kurang labiah 600.000.

Kawasan jo populasi nan signifikan
Nias, Nias Barat, Nias Selatan, Nias Utara, jo Gunung Sitoli
(Pulau Nias, Sumatera Utara, Indonesia)
Bahaso
Bahaso Nias
Agamo
Kristen, Kapicayoan Tradisional
Kalompok etnik tadakek
Batak

Suku Nias adolah kalompok masyarakaik nan hiduik di pulau Nias. Dalam bahaso aslinyo, urang Nias manamokan diri mareka Ono Niha (Ono = anak/katurunan; Niha = manusia) jo pulau Nias sabagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).

Suku Nias adolah masyarakaik nan iduik dalam lingkuangan adaik jo budayo nan masih tinggi. Hukum adaik Nias sacaro umum disabuik fondrakö nan mangatur sagalo sagi kahiduikan mulai dari kalahiran sampai kamatian. Masyarakaik Nias kuno hiduik dalam budayo megalitik dibuktikan dek paninggalan sijarah barupo ukiran pado batu-batu gadang nan masih ditamukan di wilayah padalaman pulau iko sampai kini.

Suku Nias mangenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimano tingkatan kasta nan tatinggi adolah "Balugu". Untuak mancapai tingkatan iko sasurang musti mampu malakukan alek gadang jo mangundang ribuan urang jo manyambaliah ribuan ikua taranak kandiak salamo bahari-hari.

Asal Usul[suntiang | suntiang sumber]

Tari Parang diparagokan di halaman tangah kampuang tradisional. Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam

Mitologi[suntiang | suntiang sumber]

Tari Perang

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Penelitian Arkeologi[suntiang | suntiang sumber]

Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 [1],[2]. Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu [3],[4].

Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini [5],[6] Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias.

”Dari semua populasi yang kami teliti, kromosom-Y dan mitokondria-DNA orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina,” katanya.

Kromosom-Y adolah pembawa sifat laki-laki. Manusia laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Mitokondria-DNA (mtDNA) diwariskan dari kromosom ibu.

Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak ada lagi jejak dari masyarakat Nias kuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goa tersebut berasal dari masa 12.000 tahun lalu.

”Keragaman genetika masyarakat Nias sangat rendah dibandingkan dengan populasi masyarakat lain, khususnya dari kromosom-Y. Hal ini mengindikasikan pernah terjadinya bottleneck (kemacetan) populasi dalam sejarah masa lalu Nias,” katanya.

Studi ini juga menemukan, masyarakat Nias tidak memiliki kaitan genetik dengan masyarakat di Kepulauan Andaman-Nikobar di Samudra Hindia yang secara geografis bertetangga.

Jejak terputus

Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisono mengatakan, teori tentang asal-usul masyarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000). Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.

”Masalahnya, apakah migrasi itu bersifat searah dari Taiwan ke Nusantara, termasuk ke Nias, atau sebaliknya juga terjadi?” katanya. Sony mempertanyakan bagaimana migrasi Austronesia dari Taiwan ke Nias itu terjadi.

Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Eijkman yang juga menjadi pembicara, mengatakan, migrasi Austronesia ke Nusantara masih menjadi teka-teki. ”Logikanya, dari Filipina mereka ke Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi, sampai saat ini data genetika dari Kalimantan dan Sulawesi masih minim. Masih ada missing link,” katanya.

Di Kalimantan, menurut Hera, yang diteliti genetikanya baru etnis Banjar. Hasilnya menunjukkan, mereka masyarakat Melayu. Di Sulawesi yang diteliti baru Sulawesi Selatan. ”Masih banyak studi yang harus dilakukan,” katanya.

Marga Nias[suntiang | suntiang sumber]

Lihat pula: Daftar marga Nias

Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.

Khas Nias[suntiang | suntiang sumber]

Makanan Khas[suntiang | suntiang sumber]

  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • Rakigae (pisang goreng)
  • Tamböyö (ketupat)
  • löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
  • gae nibogö (pisang bakar)
  • Kazimone (terbuat dari sagu)
  • Wawayasö - nasi pulut

Peralatan Rumah Tangga di Nias[suntiang | suntiang sumber]

  • Bowoa tanö - periuk dari tanah liat, alat masak tradisional
  • Figa lae - daun pisang yang dipakai untuk menjadi alas makanan
  • Halu (alat menumbuk padi) - Alu
  • Lösu - lesung

Amaedola[suntiang | suntiang sumber]

Peribahasa Nias[suntiang | suntiang sumber]

  • Abölö famera’ö dima ba alua zafeto - Kalau kita terlalu menekan seseorang, dia bisa membalas dengan kasar.
  • Alabu ndraono si darua molaya, owöra wakhe si darua mondrino - Pekerjaan yang dikomandoi banyak orang bisa berantakan.
  • Ala na salawa ala na gere, fakaole li na muhede.(By.Otniel Lase, lahewa.)
  • Aoha noro ni lului wahea, aoha noro nilului waoso, alisi tafadaya-daya hulu ta fae wolo-wolo - Pekerjaan (masalah) yang dikerjakan (diselesaikan) secara bersama-sama akan lebih gampang tuntasnya.
  • Böi ekhugö luo ba wönu - Amarah jangan dipendam
  • Böi tuko wulawa tanömö golowingöu - Jangan mencari atau menciptakan masalahmu sendiri.
  • Hulö la'ewa nidanö, ifuli fahalöhalö (Agus Jerniawan Zebua) - Dikiaskan pada hubungan persaudaraan, walau terjadi konflik, tetap saja kembali rukun.
  • Hulö motomo lagigia, hulö motomo la’oro, lö arara ba lö aroro - Dikiaskan pada usaha atau organisasi yang tidak bertahan lama.
  • Hulö nifokoli zilagae mbögi, siwa khönia lala wekoli, ba ha sambua khönia lala dani.
  • Hulö fatuko bawa zangasio - Mengkiaskan dua pihak yang saling menyalahkan pada hal kedua-duanya punya andil dalam suatu persoalan.
  • Kauko bahili, kauko bandraso, öfaolo göi ndra'ugö, ba ufaolo göi ndra'o - Saling mengalah dan mendekatkan diri untuk mencapai suatu permufakatan.
  • Khöu-khöu mbagi mbölökhau (Agus Jerniawan Zebua)
  • La'a-la'a akho itörö mbawa wato (F.ZEBUA)
  • Mana hili na lakhao ba'ahori, mendua manö gö ni'a sero ma'ökhö (yulius buulolo)
  • Sökhi fau'du moroi ba mbörö moroi na fau'du ba hogu (ican) - Lebih baik bertengkar pada awalnya daripada akhirnya.

Minuman[suntiang | suntiang sumber]

  • Tuo nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe") yang telah diolah dengan cara penyulingan)
  • Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa atau pohon nira yang telah diberi 'laru' berupa akar-akar tumbuhan tertentu untuk memberikan kadar alkohol)

Budaya Nias[suntiang | suntiang sumber]

Fahombo (Lompat Batu)

Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adolah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.


Galeri[suntiang | suntiang sumber]

Pautan lua[suntiang | suntiang sumber]

Rujuakan[suntiang | suntiang sumber]